MEMAHAMI ISRA' MI'ROJ: ANTARA SEJARAH, AQIDAH, DAN HIKMAH PERIBADATAN
A. Pendahuluan
Peristiwa Isrā’ Mi‘rāj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Peristiwa ini bukan hanya bagian dari sejarah sirah nabawiyyah, tetapi juga menjadi pondasi dalam pemahaman akidah, syiar, dan spiritualitas umat Islam, terutama karena di dalamnya ditetapkan kewajiban shalat lima waktu.
B. Dalil Qur’ani tentang Isrā’ dan Mi‘rāj
Peristiwa ini terekam dalam dua ayat pokok: Surah Al-Isrā’ menggambarkan perjalanan duniawi horizontal (Makkah–Baitul Maqdis), sedangkan Surah An-Najm menjelaskan perjalanan uluwi vertikal menembus langit.
a. Dalil tentang Isrā’
Allah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…” (QS. Al-Isrā’: 1)
b. Dalil tentang Mi‘rāj
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ • عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ
“Dan sungguh, dia (Nabi) melihatnya pada kesempatan lain, di Sidratul Muntaha.” (QS. An-Najm: 13-14)
C. Hadits-Hadits Mu‘tabarah
Rangkaian peristiwa Mi‘rāj diriwayatkan oleh banyak sahabat; bagian penetapan shalat terdapat dalam riwayat sahih:
فُرِضَتِ الصَّلَاةُ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ
“Shalat diwajibkan pada malam Mi‘rāj.” (HR. Bukhārī & Muslim)
D. Nukilan Kitab-Kitab Klasik
Para ulama turats menaruh perhatian khusus terhadap peristiwa ini. Di antaranya:
a. al-Dardīr (syarḥ Hāsyiyah al-Dusuqī ‘ala Khalīl)
Imam al-Dardīr (Maliki) menyatakan:
قال الدردير: وَالإِسْرَاءُ وَالْمِعْرَاجُ حَقٌّ جَسَدًا وَرُوحًا فِي الْيَقَظَةِ
“Isrā’ dan Mi‘rāj adalah benar, dilakukan dengan jasad dan ruh dalam keadaan sadar.”
b. al-Qādī ‘Iyāḍ – al-Syifā’
وَمِنْ مَعْلُومِ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ ثُبُوتُ الْمِعْرَاجِ
“Peristiwa mi‘rāj termasuk perkara agama yang diketahui secara pasti.”
c. Ibn Ḥajar – Fatḥ al-Bārī
Ibn Ḥajar menyebut bahwa mi'roj adalah secara jasad dan ruuh;
وَأَجْمَعَ السَّلَفُ عَلَى أَنَّ الْمِعْرَاجَ كَانَ بِالْجَسَدِ وَالرُّوحِ
E. Diskusi Mazhab: Jasadi atau Ruhi?
Para ulama sepakat atas kebenaran Isrā’ Mi‘rāj, tetapi memiliki nuansa argumentatif:
| Pendapat | Ulama | Keterangan |
|---|---|---|
| Jasad + Ruh (mayoritas) | Jumhur Ahl al-Sunnah: Malikiyah, Syafi‘iyah, Hanabilah | Peristiwa nyata, bukan sekadar mimpi |
| Ruh saja (minoritas) | Sebagian kecil dari muta’akhkhirin dan filosof | Dipahami sebagai pengalaman batin ruhani |
| Campuran | Syaikh al-Razi, al-Qusyairi | Sebagian jasadi, sebagian ruhi |
Mayoritas ulama menolak reduksi Mi‘rāj menjadi mimpi, sebab Qur’an menggunakan frasa “bi ‘abdihi” — menunjukkan kesatuan tubuh-ruh.
F. Argumentasi Rasional–Filosofis
Isrā’ Mi‘rāj sering ditanyakan dalam kerangka akal modern: “Mungkinkah manusia melintasi langit?”
Jawaban ulama klasik & kontemporer:
-
Akal tidak menafikan yang mungkin
-
Ulama ushul membagi realitas menjadi:
-
wājib al-wuqū‘ (pasti)
-
mustaḥīl (mustahil)
-
ja’iz (mungkin terjadi)
-
-
Mi‘rāj masuk kategori ja’iz, dan menjadi wāqi‘ karena dalil qat‘i.
-
-
Kemampuan Allah tidak terbatas
Sedang Mi‘rāj bukan usaha nabi, tetapi tindakan Allah. Firman-Nya dimulai dengan:سُبْحَانَ — isyarat bahwa yang terjadi adalah hal luar biasa menurut manusia.
-
Teknologi modern mempersempit keheranan
-
Jika pesawat, roket, bahkan perjalanan orbit saat ini tidak dianggap mustahil,
maka mustahilkah Allah memperjalankan satu hamba-Nya?
-
-
Filosofi simbolik perjalanan
Mi‘rāj mengajarkan bahwa:-
manusia memiliki dimensi ruhani yang bisa naik menuju sumber cahaya pengetahuan (nūr),
-
ibadah (shalat) menjadi “tangga” naik umat setelah Nabi.
-
G. Hikmah Spiritual & Syariat
Hikmah terbesar Mi‘rāj adalah shalat.
الصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ
“Shalat adalah mi‘rājnya orang beriman.”
Dalam shalat:
- raga tunduk (fisik),
- akal fokus (kognitif),
- ruh hadir (eksistensial),
- hati tersambung (spiritual).
Mi‘rāj menjembatani tiga dimensi manusia: jasad – akal – ruh.
H. Relevansi untuk Pembinaan Umat di KUA
Dalam konteks layanan keagamaan di KUA, peristiwa ini memiliki beberapa dimensi bimbingan:
-
Dimensi Ibadah
→ penguatan shalat sebagai fondasi keluarga sakinah. -
Dimensi Aqidah
→ meningkatkan kepercayaan kepada kekuasaan Allah dan kenabian. -
Dimensi Moderasi Beragama
→ mengajarkan umat menghargai perbedaan istinbath ulama. -
Dimensi Moral Sosial
→ peristiwa ini sarat etika: kesabaran Nabi, keteguhan dalam dakwah, dan penghormatan antar para nabi.
I. Penutup
Isrā’ Mi‘rāj bukan sekadar kisah mukjizat, tetapi peristiwa yang menghubungkan langit syariat dengan bumi kemanusiaan. Ia mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah bukan hanya diukur dari tinggi langit yang ditembus, tetapi dari kekhusyukan shalat dan ketundukan hati.
Semoga kita termasuk hamba yang menjadikan shalat sebagai Mi‘rāj menuju Allah.
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ


Posting Komentar untuk "MEMAHAMI ISRA' MI'ROJ: ANTARA SEJARAH, AQIDAH, DAN HIKMAH PERIBADATAN"