Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer





KHUTBAH JUMAT: PESAN EKOTEOLOGI DALAM PERISTIWA ISRĀ’ MI‘RĀJ

 


Berikut Naskah Khutbah Jum'at 16 Januari 2026 - Versi B.Indo & B.Jawa

KHUTBAH PERTAMA

الحمدُ للهِ الَّذِي بَسَطَ الأَرْضَ لِلسَّامِرِينَ، وَزَيَّنَ السَّمَاءَ لِلنَّاظِرِينَ، وَأَقَامَ مِيزَانَ الْعَدْلِ بَيْنَ الْمَخْلُوقِينَ، نَحْمَدُهُ عَلَى آلَائِهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنْ زَلَّاتِنَا وَذُنُوبِنَا وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، خَلَقَ فَأَبْدَعَ، وَقَدَّرَ فَأَحْسَنَ، وَدَبَّرَ فَأَحْكَمَ

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَاتَّبَعَ الْهُدَى.

Jama’ah Jumat rahimakumullah,

Peristiwa Isrā’ Mi‘rāj yang setiap tahun kita peringati bukan hanya kisah agung yang menunjukkan kehebatan mukjizat Nabi , tetapi juga mengandung pesan moral, sosial, kosmologis, dan ekologis yang sering luput dari perhatian. Allah membuka kisah ini dengan firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ... (QS. Al-Isrā’: 1)

Perjalanan ini diawali dari bumi menuju langit, mengajarkan bahwa relasi vertikal kepada Allah tidak akan sempurna tanpa relasi horizontal kepada ciptaan-Nya.

Imam Al-Qurṭubī dalam tafsirnya menekankan bahwa tanda-tanda kebesaran Allah tidak hanya terdapat di langit, tetapi juga di bumi, dan manusia diperintahkan untuk mentadabburi keduanya. Allah berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ... لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ (QS. Āli ‘Imrān: 190)
Bumi adalah ayat (tanda), bukan semata objek eksploitasi.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ... لَآيَاتٍ لِّأُولِي هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا  (QS. Hūd: 61)

Ibnu Katsīr menafsirkan kata “ista‘marakum” sebagai tuntutan untuk memakmurkan dan menjaga bumi, bukan merusak dan menghabiskannya. Ini menunjukkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari amanah kekhalifahan manusia.

Isrā’ mengajak Nabi untuk menyaksikan situs sejarah dan tempat-tempat di bumi, seolah-olah Allah sedang memperlihatkan bahwa bumi ini adalah teks terbuka yang harus dibaca. Ulama mengatakan:

الأَرْضُ مَجْلَسُ التَّفَكُّرِ قَبْلَ أَنْ تَكُونَ مَسْجِدًا لِلصَّلَاةِ

(Bumi adalah majlis tafakkur sebelum menjadi masjid untuk shalat)

Setelah perjalanan bumi, Nabi dimi‘rajkan menuju langit. Di sana beliau menerima kewajiban shalat — ibadah yang sangat terkait dengan unsur-unsur alam. Air dipakai untuk wudhu, tanah dipakai untuk tayammum, pakaian harus bersih, tempat harus suci, waktu mengikuti peredaran matahari, dan arah mengikuti posisi Ka‘bah. Semua ini menunjukkan bahwa ibadah syariat tidak mungkin ditegakkan tanpa keterpeliharaan unsur-unsur ekologis.

Dalam hadits-hadits shahih, Nabi menunjukkan interaksi penuh penghormatan terhadap alam. Batu memberi salam kepada beliau, pohon bersaksi, hewan tunduk, dan gunung ikut bertasbih. Hadits dalam Shahih Muslim menyebut:

إِنِّي لَأَعْلَمُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ

Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī dalam Fatḥ al-Bārī menjelaskan bahwa alam bukan benda mati tanpa kesadaran, tetapi makhluk yang tunduk dalam tasbih kepada Allah.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Krisis ekologis yang kita hadapi hari ini — pencemaran udara, krisis air bersih, punahnya spesies, hilangnya hutan, hingga perubahan iklim — bukan hanya persoalan teknis dan ekonomi, tetapi juga persoalan spiritual dan akhlak. Al-Qur’an menegaskan:

 ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ (QS. Ar-Rūm: 41)

Imam Al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menyebut bahwa kerusakan lingkungan termasuk fasād moral, karena merusak amanah yang Allah titipkan kepada manusia. Sementara Ibnu Taymiyyah menegaskan:

الشَّرْعُ جَاءَ بِمَصَالِحِ الْخَلْقِ

(Syariat datang untuk menjaga kemaslahatan seluruh makhluk)

bukan hanya manusia.

Karena itu menjaga lingkungan bukan sekadar aktivisme modern, tetapi bagian dari ibadah. Menjaga kebersihan, menghemat air, tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak tumbuhan, dan tidak menyiksa hewan semua tercatat dalam sunnah Nabi . Dalam hadits riwayat Bukhari:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَة... وَإِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَة

Menyingkirkan gangguan dari jalan saja dicatat sebagai sedekah, apalagi mencegah kerusakan ekologi yang lebih besar.

KHUTBAH KEDUA

الحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُولِي التُّقَى أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَعْمُرُونَ الأَرْضَ وَلَا يُفْسِدُونَ، وَيَحْمِلُونَ الأَمَانَةَ وَلَا يُضَيِّعُونَ، وَيَرْعَوْنَ الْخَلْقَ وَلَا يَظْلِمُونَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا مِنَ المُسْلِمِيْن وَالمُسْلِمَات الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَات رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

عبادَ الله؛

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

ثُمَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ


KLIK LINK DIBAWAH INI UNTUK MENDOWNLOAD NASKAH KHUTBAH JUM'AT:

VERSI BAHASA INDONESIA

VERSI BAHASA JAWA

Posting Komentar untuk "KHUTBAH JUMAT: PESAN EKOTEOLOGI DALAM PERISTIWA ISRĀ’ MI‘RĀJ"