Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer





IDUL FITRI: MERAWAT KERUKUNAN UMAT DAN KEUTUHAN BANGSA

KHUTBAH IDUL FITRI

IDUL FITRI: MERAWAT KERUKUNAN UMAT DAN KEUTUHAN BANGSA

KHUTBAH PERTAMA

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ، وَوَفَّقَنَا لِصِيَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَقِيَامِهِ، وَجَعَلَ يَوْمَ الْفِطْرِ عِيدًا وَفَرْحَةً لِلْمُؤْمِنِينَ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْبَرَكَاتُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اِتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Hari ini kita berkumpul di pagi yang penuh kebahagiaan. Setelah satu bulan penuh kita menjalani ibadah puasa Ramadhan—menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, menahan hawa nafsu—akhirnya Allah mempertemukan kita dengan hari kemenangan: Idul Fitri.

Namun kemenangan Idul Fitri bukan hanya kemenangan menahan lapar dan dahaga.
Kemenangan Idul Fitri adalah kemenangan melawan hawa nafsu, kemenangan memperbaiki diri, dan kemenangan memperkuat iman.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan Ramadhan adalah membentuk manusia yang bertakwa.

Tetapi pertanyaannya adalah:

Apakah ketakwaan itu hanya ada di bulan Ramadhan?

Apakah setelah Ramadhan selesai kita kembali kepada kebiasaan lama?

·       Jika di bulan Ramadhan kita rajin ke masjid, tetapi setelah Ramadhan masjid kembali sepi.

·       Jika di bulan Ramadhan kita mudah bersedekah, tetapi setelah Ramadhan kita kembali kikir.

·       Jika di bulan Ramadhan kita menahan amarah, tetapi setelah Ramadhan kita kembali mudah bertengkar.

Maka sesungguhnya kita belum sepenuhnya lulus dari madrasah Ramadhan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ketakwaan yang diajarkan Ramadhan bukan hanya hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia.

Rasulullah bersabda:

 الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang membuat muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya seorang muslim sejati adalah orang yang tidak menyakiti orang lain, baik dengan ucapan maupun perbuatannya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Bangsa kita adalah bangsa yang besar.
Bangsa yang terdiri dari berbagai suku, budaya, bahasa, dan latar belakang.

Namun perbedaan itu tidak menjadikan kita bermusuhan. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling mengenal dan saling menghormati.

Karena itu Idul Fitri harus menjadi momentum untuk merawat kerukunan umat dan menjaga keutuhan bangsa.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kerukunan masyarakat sebenarnya dimulai dari hal-hal sederhana.

Dimulai dari kerukunan dalam keluarga.

·       Jika suami dan istri saling menghormati.

·       Jika orang tua menyayangi anak-anaknya.

·       Jika anak-anak berbakti kepada orang tuanya.

Maka keluarga akan menjadi keluarga yang sakinah, penuh ketenangan dan kasih sayang.

Kemudian kerukunan diperluas kepada tetangga dan masyarakat. Rasulullah bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril terus berpesan kepadaku tentang tetangga sampai aku mengira tetangga akan mendapat hak warisan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa hubungan dengan tetangga sangat penting dalam Islam.

·       Tetangga yang lapar harus kita pedulikan.

·       Tetangga yang sakit harus kita jenguk.

·       Tetangga yang kesusahan harus kita bantu.

Inilah nilai-nilai sosial yang diajarkan Ramadhan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Hari ini kita saling berjabat tangan, saling memaafkan, saling mengunjungi. Ini adalah tradisi yang sangat indah dalam Islam. Allah SWT memuji orang-orang yang mampu memaafkan:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

“Orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia.” (QS. Ali Imran: 134)

Karena itu jangan kita biarkan permusuhan berlarut-larut. Jangan kita biarkan kebencian merusak persaudaraan.

Mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk membersihkan hati dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ، وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ، اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ، وَلِوَالِدَيْنَا وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اللهُ اَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٤×) اللهُ اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اِتَّقُوا اللَّهَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِينَ الْفَائِزِينَ الْمَقْبُولِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

BERIKUT LINK DOWNLOAD NYA

KHUTBAH IDUL FITRI PDF

Posting Komentar untuk "IDUL FITRI: MERAWAT KERUKUNAN UMAT DAN KEUTUHAN BANGSA"